Home / SUMSEL / Palembang / Mengenang 40 Hari Perginya Sosok ”Fenomenal-Futuristik”

Mengenang 40 Hari Perginya Sosok ”Fenomenal-Futuristik”

PALEMBANG, sumselsembilan.id — Mulai mengenal beliau sejak tahun 1990an. Dia seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang sekarang disebut aparatur sipil negara (ASN) bertugas di jajaran Pemkot Palembang, dan saya seorang jurnalis muda pada harian umum Sriwijaya Post. Seiring perjalanan waktu, beliau pun menduduki jabatan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, dan disitulah pertemuan dengan beliau semakin intens, karena sesuai dengan bidang liputan yang ditugaskan redaksi kepada saya, yakni budaya dan pariwisata. Kemudian, beliau pindah tugas ke Pemkab Musi Banyuasin (Muba).

Suatu ketika, saya menyertai beliau berangkat ke Jakarta, dan saat itu beliau sudah menjabat Sekda Muba dan mau ikut kontestasi pilkada Muba. Tentu saja, saya diajak dalam kapasitas sebagai jurnalis yang notabene akan melakukan ‘personal branding’ beliau sebagai bakal calon bupati. Sungguhpun ketika itu pilkada dipilih oleh anggota DPRD, namun aspirasi masyarakat “grassroot’ masih menjadi acuan untuk memuluskan pemilihan. Jujur, ketika itu beliau mendapat resistensi atau daya tolak cukup kuat dari beberapa elemen masyarakat Muba, karena dianggap bukan putra daerah. Isu rasisme masih sangat kental waktu itu.

Di Jakarta, saya dan beberapa orang lainnya, antara lain almarhum Romi Herton (pernah jadi walikota Palembang) buka posko di Hotel Indonesia. Tugas saya mewawancarai beberapa tokoh dan sesepuh Muba di Jabodetabek, terkait pencalonan pak Alex Noerdin untuk menjadi Bupati Muba menggantikan Kol Purn Nazom Nurhawi. Semua tokoh dan sesepuh Muba yang diwawancarai tak seorangpun yang menyatakan keberatan jika beliau menjadi Bupati Muba. Dan, ternyata beliau memiliki hubungan emosional dan garis keturunan dengan Muba.

Setelah wawancara saya buat berita, dan didistribusi ke beberapa media yang terbit di Palembang. Saya bebas mau menulis apa saja fakta sesuai hasil wawancara, beliau pun tidak mau terlibat terlalu dalam urusan berita, misalnya membaca dulu berita tersebut sebelum diterbitkan. Setelah beberapa bulan beliau terpilih dan dilantik menjadi Bupati Muba periode 2001-2006 saya datang menghadap. Saya minta ‘gawean’ alias proyek kepada beliau. Jawabnya singkat, ”jangan minta proyek, kito samo-samo dak lemak”, ucapnya saat ditemui di ruang kerja bupati.

Saya paham maksudnya, karena saya bukan seorang kontraktor dan kalau ada apa-apanya dia yang akan menanggung risiko.
“Mak ini bae, awak dengar bae kapan wong termin, klo sudah termin awak mudik ke Sekayu,’ katanya. Termin adalah tahapan pencairan dana proyek. Mungkin maksudnya kalau ada pencarian dana proyek saya datang menghadap dan ada jatah. Untunglah hal itu tidak pernah ku lakukan, saya akan datang menghadap beliau dengan membawa proposal kegiatan resmi organisasi yang saya pimpin, bukan fiktif.
Alhamdulillah setiap proposal yang saya ajukan tidak pernah ditolak. Beliau selalu bantu, baik melalui anggaran Pemkab maupun pribadi.
Suatu kali, beliau perintahkan ajudannya untuk mendampingi saya menghadap kabag keuangan membawa proposal yang sudah mendapat disposisi beliau. ”Omongkan dengan kabag, jangan dipotong sepeserpun bantuan ini,” ucapnya kepada sang ajudan.

Dilain waktu proposal saya dibantunya dengan uang pribadi. ”Besok temui Tedi di rumah Jalan Merdeka,” ujarnya saat saya mengajukan proposal untuk menghadiri Kongres PWI Reformasi di Subang, Jawa Barat. Tedi adalah ajudan beliau yang sekarang menjabat Bupati OKU, dan rumah Jalan Merdeka Palembang adalah rumah pribadi beliau. Banyak kenangan indah lainnya yang saya dapatkan selama beliau menjadi pejabat. Pastinya, terlepas dari semua kasus hukum yang dialami, beliau adalah sosok fenomenal, pejabat yang hebat, fantastis dan menakjubkan yang pernah ada di Sumsel.

Kiprah dan ide-ide beliau sangat futuristik, karena berdampak baik bagi masa depan anak bangsa, antara lain program sekolah gratis dan berobat gratis. Sekarang sosok ‘Fenomenal-Futuristik’ itu telah tiada. Selamat jalan Pak Alex Noerdin, jasa-jasamu tak akan terlupakan, dan tunggu kami di pintu Surga Firdaus. (asnadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *